Bahan Ajar BKPBI (Kesatu)
Posted by Unknown
Posted on 07.32
with No comments
Program Khusus : BKPBI Non Bahasa
Standar Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar
(ABM) atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak.
Kompetensi Dasar : Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (lonceng) yang diperdengarkan langsung
secara terprogram.
Indikator :
Tujuan Pembelajaran :
Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari
ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya.
KEGIATAN:
• Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan
pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan
percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon
untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
• Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru
dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran)
secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak
ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa:
gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain
peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera
pendengaran saja.
• Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.
EVALUASI
• Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.
• Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
• Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama : ……………………………………………………
Kelas, semester : 1/1
Data Pendengaran : kanan: … dB kiri : … dB
ABM : Memakai/Tidak memakai Jenis : ………
Materi : ………………………………………………………….
Nilai Perolehan : …………………………………………………………

Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Respon siswa yang salah diisi pada kolom keterangan
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama : Greg
Kelas, semester : 1/1
Data Pendengaran : kanan: 90dB kiri : 110 dB
ABM : Memakai/Tidak memakai * Jenis :Belakang Telinga (BTE )**
Materi : Deteksi ada bunyi dan tidak ada bunyi lonceng.***
Nilai Perolehan : B
Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Rumus Perhitungan Prosentase Penilaian:
NILAI PEROLEHAN = Score Perolehan x 100%
Score maksimal
Kriteria Penilain
A : 90% - 100%
B : 70% - 89%
C : 55% - 69%
K : ≤ 54%
Dari nilai perolehan ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
A : Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil sempurna
B: Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil baik.
C: Siswa mulai mampu mendeteksi bunyi lonceng
K: Siswa belum mampu mendeteksi bunyi lonceng
Standar Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar
(ABM) atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak.
Kompetensi Dasar : Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (lonceng) yang diperdengarkan langsung
secara terprogram.
Indikator :
10. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bertepuk tangan.Program Khusus : BKPBI Non Bahasa
11. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan melipat tangan.
12. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan membunyikan lonceng.
13. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan diam saja.
14. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan mengucapkan ada bunyi
15. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan mengucapkan tidak ada bunyi
16. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan menuliskan ada bunyi.
17. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan menuliskan tidak ada bunyi.
18. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bermain peran pembeli es lilin.
Tujuan Pembelajaran :
Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari
ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya.
KEGIATAN:
• Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan
pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan
percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon
untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
• Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru
dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran)
secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak
ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa:
gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain
peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera
pendengaran saja.
• Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.
EVALUASI
• Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.
• Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
• Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama : ……………………………………………………
Kelas, semester : 1/1
Data Pendengaran : kanan: … dB kiri : … dB
ABM : Memakai/Tidak memakai Jenis : ………
Materi : ………………………………………………………….
Nilai Perolehan : …………………………………………………………
Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Respon siswa yang salah diisi pada kolom keterangan
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama : Greg
Kelas, semester : 1/1
Data Pendengaran : kanan: 90dB kiri : 110 dB
ABM : Memakai/Tidak memakai * Jenis :Belakang Telinga (BTE )**
Materi : Deteksi ada bunyi dan tidak ada bunyi lonceng.***
Nilai Perolehan : B
Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Rumus Perhitungan Prosentase Penilaian:
NILAI PEROLEHAN = Score Perolehan x 100%
Score maksimal
Kriteria Penilain
A : 90% - 100%
B : 70% - 89%
C : 55% - 69%
K : ≤ 54%
Dari nilai perolehan ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
A : Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil sempurna
B: Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil baik.
C: Siswa mulai mampu mendeteksi bunyi lonceng
K: Siswa belum mampu mendeteksi bunyi lonceng
Strategi Pembelajaran Program Khusus Bina Diri Bagi Anak Tunagrahita
Posted by Unknown
Posted on 07.30
with No comments
Strategi Pembelajaran Program Khusus Bina Diri Bagi Anak Tunagrahita
Di Kutip Dari: Deded Koswara, M.M.Pd
A. A. Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru beraneka ragam. Ada guru yang memulai kegiatannya dengan menunggu pertanyaan dari siswa, ada yang aktif memulai dengan
mengajukan pertanyaan kepada siswa, ada pula yang mulai dengan memberikan penjelasan materi yang akan diuraikan, dan ada yang memulai dengan mengulangi penjelasan tentang materi yang lalu, dikaitkan dengan pelajaran yang baru. Sebagian, ada yang melanjutkan dengan kegiatan menjawab dengan pertanyaan siswa, membentuk kelompok diskusi atau menggunakan program kaset untuk didengarkan bersama. Biasanya, kegiatan pembelajaran itu ditutup dengan tes atau rangkuman materi yang telah dijelaskan.
Setiap guru mempunyai cara sendiri untuk menentukan urutan kegiatan pembelajarannya. Setiap cara dipilih atas dasar keyakinan akan berhasil menggunakannya dalam mengajar. Pemilihan cara mengajar mungkin didasarkan atas intuisi, kepraktisan, atau mungkin pula atas dasar teori-teori tertentu.
Bagi seorang guru, kemampuan menyusun strategi pembelajaran merupakan modal utama dalam merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Apa yang akan diajarkannya bukan saja harus relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran. Melainkan juga harus dapat dikuasai, dimiliki dengan baik oleh peserta didik yang diajarnya. Di samping itu, kegiatan pembelajaran juga harus menarik dan bervariasi.
Bagi seorang pengelola program pendidikan, kemampuan menyusun strategi pembelajaran sangat bermanfaat dalam menetapkan materi pelajaran, media, dan fasilitas yang dibutuhkan serta dalam menyarankan penggunaan metode pembelajaran yang lebih tepat kepada guru. Sedangkan bagi guru sebagai pengembang pembelajaran, kemampuan tersebut merupakan tulang punggung dalam menyusun bahan ajar atau membuat prototipe sistem/model pembelajaran.
B. Pengertian
Strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistimatis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai/dimiliki oleh peserta didik dan dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Untuk itu di dalam strategi pembelajaran terkandung empat unsur/komponen sebagai berikut :
1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada peserta didik dan kegiatan peserta didik dalam merespons materi;
2. Metode pembelajaran, yaitu cara guru mengorganisasikan dan menyampaikan pelajaran, materi pelajaran dan mengorganisasikan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
3. Media pembelajaran, peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
4. Waktu yang digunakan oleh guru dan peserta didik untuk menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran;
Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, metode pembelajaran, media dan bahan pelajaran, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran dapat pula disebut sebagai cara sistimatis dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran berkenaan dengan bagaimana (the how) menyampaikan isi pelajaran.
Rumusan strategi pembelajaran lebih dari sekedar urutan kegiatan dan metode pembelajaran saja. Di dalamnya terkandung pula media pembelajaran dan pembagian waktu untuk setiap langkah kegiatan tersebut.
C. Komponen Strategi Pembelajaran
Secara keseluruhan strategi pembelajaran terdiri dari empat komponen utama, yaitu :
1. Urutan kegiatan pembelajaran
Komponen Utama yang pertama, yaitu urutan kegiatan pembelajaran mengandung beberapa komponen, yaitu pendahuluan, penyajian dan penutup.
Komponen Pendahuluan terdiri atas tiga langkah sebagai berikut :
a. Penjelasan singkat tentang isi pelajaran.
b. Penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan
c. Penjelasan tentang tujuan pembelajaran.
Komponen Penyajian juga terdiri atas tiga langkah, yaitu :
a. Uraian
b. Contoh dan
c. Latihan.
Komponen penutup terdiri atas dua langkah sebagai berikut :
a. Tes formatif dan umpan balik dan
b. Tindak lanjut.
Secara keseluruhan strategi pembelajaran terdiri dari empat komponen utama, yaitu :
1. Urutan kegiatan pembelajaran
Komponen Utama yang pertama, yaitu urutan kegiatan pembelajaran mengandung beberapa komponen, yaitu pendahuluan, penyajian dan penutup.
Komponen Pendahuluan terdiri atas tiga langkah sebagai berikut :
a. Penjelasan singkat tentang isi pelajaran.
b. Penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan
c. Penjelasan tentang tujuan pembelajaran.
Komponen Penyajian juga terdiri atas tiga langkah, yaitu :
a. Uraian
b. Contoh dan
c. Latihan.
Komponen penutup terdiri atas dua langkah sebagai berikut :
a. Tes formatif dan umpan balik dan
b. Tindak lanjut.
2. Metode pembelajaran
Komponen Utama yang Kedua, yaitu metode pembelajaran, terdiri atas berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Setiap langkah tersebut mungkin menggunakan satu atau beberapa metode, tetapi mungkin pula beberapa langkah menggunakan metode yang sama
Metode pembelajaran harus mampu menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan cara-cara yang tepat sehingga memberi kemudahan peserta didik dalam belajarnya. Selain itu fungsi metode dalam pembelajaran akan optimal apabila di dalam penggunaannya mampu memberikan kesenangan atau kegembiraan bagi peserta didik.
3. Media
Komponen Utama yang Ketiga, yaitu media pembelajaran, berupa media cetak, dan atau media non cetak seperti misalnya media Audio Visual yang dapat digunakan pada setiap langkah kegiatan pembelajaran, seperti halnya penggunaan metode pembelajaran, mungkin beberapa media digunakan pada suatu langkah atau satu media digunakan untuk beberapa langkah kegiatan pembelajaran
4. Bahan pelajaran
5. Waktu yang digunakan pengajar.
D. Menyusun Strategi Pembelajaran.........................Komponen Utama yang Kedua, yaitu metode pembelajaran, terdiri atas berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Setiap langkah tersebut mungkin menggunakan satu atau beberapa metode, tetapi mungkin pula beberapa langkah menggunakan metode yang sama
Metode pembelajaran harus mampu menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan cara-cara yang tepat sehingga memberi kemudahan peserta didik dalam belajarnya. Selain itu fungsi metode dalam pembelajaran akan optimal apabila di dalam penggunaannya mampu memberikan kesenangan atau kegembiraan bagi peserta didik.
3. Media
Komponen Utama yang Ketiga, yaitu media pembelajaran, berupa media cetak, dan atau media non cetak seperti misalnya media Audio Visual yang dapat digunakan pada setiap langkah kegiatan pembelajaran, seperti halnya penggunaan metode pembelajaran, mungkin beberapa media digunakan pada suatu langkah atau satu media digunakan untuk beberapa langkah kegiatan pembelajaran
4. Bahan pelajaran
5. Waktu yang digunakan pengajar.
Sarana BKPBI
Posted by Unknown
Posted on 07.27
with No comments
E. Sarana BKPBI
Dalam melaksanakan BKPBI dibutuhkan sarana antara lain:1. Ruang untuk kegiatan pembelajaran BKPBI sebaiknya dilengkapi dengan
medan pengantar bunyi (sistem looping).
2. Perlengkapan latihan BKPBI terdiri atas:
a) Alat sebagai sumber bunyi
• Alat nonelektronik : lonceng, kentongan, gamelan, dan lainlain.
• Alat elektronik : tape recorder, salon, organ, piano, dan lainlain.
b) Alat penunjang latihan
• Alat ini digunakan sebagai alat peraga ketika siswa merespon bunyi.
Contoh : topeng, selendang, caping, kuda lumping.
3. Tenaga khusus pelaksana BKPBI hendaknya memenuhi beberapa
persyaratan, antara lain memiliki latar belakang pendidikan guru anak
tunarungu, memiliki dasar pengetahuan tentang musik, dan memiliki
kreativitas dalam bidang seni tari dan musik.
Sarana BKPBI diatas idealnya dimiliki oleh setiap SLB B, namun apabila belum
tersedia, pelaksanaan BKPBI harus tetap berjalan dengan menggunakan peralatan
yang ada sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Yang perlu diingat adalah
tahap-tahap pelaksanaan.
A. Pelaksanaan BKPBI
1. Bahan Ajar Kesatu
Program Khusus : BKPBI Non Bahasa Standar
Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar (ABM)
atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak.
Kompetensi Dasar : Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (lonceng) yang diperdengarkan langsung secara terprogram.
Indikator :
1. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bertepuk tangan.
2. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan melipat tangan.
3. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan membunyikan lonceng.
4. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan diam saja.
5. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan mengucapkan ada bunyi
6. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan mengucapkan tidak ada bunyi
7. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan menuliskan ada bunyi.
8. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan menuliskan tidak ada bunyi.
9. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bermain peran pembeli es lilin.
Tujuan Pembelajaran :
Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari
ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya.
KEGIATAN:
• Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon
untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
• Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran) secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
• Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.
EVALUASI
• Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.
• Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
• Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.
LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama : ……………………………………………………
Kelas, semester : 1/1
Data Pendengaran : kanan: … dB kiri : … dB
ABM : Memakai/Tidak memakai Jenis : ………
Materi : ………………………………………………………….
Nilai Perolehan : …………………………………………………………
Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Respon siswa yang salah diisi pada kolom keterangan
Bekasi .......................2010
Guru BKPBI
Basuki Rakhmat, S.Pd
Menyiapkan Anak Autis
Posted by Unknown
Posted on 07.23
with No comments
Judul Asli : Menyiapkan Anak Autis
oleh : UNTUNG S. DRAZAT:
[dikutip dari Rubrik PROFESI, Majalah d’Maestro, edisi Juni 2004]
Thofik lagi Latihan lagu Mars Anak Pantara-1: Sampai nungging, hurufnya kekecilan nih...Suasana riuh memenuhi ruang kelas berukuran sekitar 50 meter persegi itu. Murid-murid yang hanya terdiri Thfik mulai sibuk dengan kaus kakinya ...dari 10 orang itu berebut memberikan penilaian terhadap target mingguan teman-temannya. Suasana Tuuuh... Thofik sudah lupa dengan syair lagu Mars-nya 'kan?makin heboh karena ada seorang murid yang tidak terima dengan penilaian teman-temannya.
Adu argumentasi pun terjadi. Sang guru dengan berbagai jurus pendekatan, mencoba memberi penjelasan kepada si murid kenapa ia tidak mencapai target untuk ”tidak memancing perhatian teman-teman di kelas”. Tetapi, si murid tetap bersikeras tidak melakukan hal-hal yang memancing perhatian. Bahwa perbuatan membuka diari sebelum waktunya tidak membuat teman-temannya mengalihkan perhatian kepadanya. Akhirnya adu argumentasi diakhiri, dan kata sepakat didapati. Si murid dianggap tetap dinilai mencapai target, tetapi diminta untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.
Begitulah keseharian yang dihadapi Untung S. Drazat. Murid-murid yang dihadapi guru kelahiran Cirebon, 33 tahun lalu itu memang bukan seperti umumnya anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak yang mengalami kesulitan belajar atau learning disablitity (LD) karena mengalami dyslexia, dysgraphia, dan dyscalculia, menyandang attention deficit disorders (ADD) atau attention deficit hyperactivitiy disorders (ADHD), dan autisme.
”Mereka adalah anak-anak yang mengalami gangguan perhatian, tidak bisa fokus ke satu hal. Belum selesai mempersepsi, memahami satu objek, perhatian mereka sudah pindah ke objek lain. Karena masalah perhatiannya ini, mereka mengalami gangguan dalam mempersepsi. Hal ini menyebabkan pemahamaannya terbatas dan tidak utuh. Akhirnya, banyak pelajaran tertinggal. Mengingat pemahaman itu melalui proses melihat, mendengar, meraba. Padahal di kelas, pengalaman paling banyak diperoleh melalui melihat, mendengar, dan melakukan. Dan, itu yang sangat minim pada mereka,” papar Untung, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala SD Pantara.
Menurut pria yang gemar membaca dan browsing ini, hambatan dalam mempersepsi dan memahami suatu peristiwa secara utuh itulah yang menyebabkan murid yang tadi protes; ia sulit memahami bahwa perbuatannya, yang tergesa-gesa membuka diari, membuat perhatian teman-temannya beralih dan terganggu. ”Jadi, mereka kadang-kadang hanya ingat ujungnya saja. Misalnya, ada seorang murid mengganggu temannya, dan karena kesal si temannya menonjok dia. Lalu murid ini mengadu kepada guru bahwa ia ditonjok temannya. Ia tidak sepenuhnya paham kalau ia ditonjok justru karena mengganggu teman,” papar pria yang sudah menangani anak-anak berkesulitan belajar sejak tahun 1997.
Tepatnya,Untung menangani mereka sejak masih kuliah di IKIP Bandung. ”Ketika itu saya menjadi salah satu guru pembimbing di pusat terapi milik dosen saya, Bapak Sugiarmin. Itulah awal saya berkenalan dengan bidang LD, dan saya langsung tertarik untuk terus mendalami karena ada tantangan” kenang Untung. ”Saya suka dengan dunia anak-anak yang ’tiba-tiba’, ’ajaib’, dan spontan. Hampir semua anak di sini punya kelebihan; ada yang hafal nama-nama jalan di Jakarta, ada yang memiliki photographic memory, sehingga dia mengingat detail sebuah objek seakan-akan melihat foto, dan sebgian mereka IQ-nya di atas rata-rata. Ini yang membuat saya tertantang: kenapa anak-anak yang punya kelebihan itu prestasinya tidak bisa berkembang sesuai potensinya, bagaimana menyiasati faktor gangguan penyerta tersebut?” tambahnya.
oleh : UNTUNG S. DRAZAT:
[dikutip dari Rubrik PROFESI, Majalah d’Maestro, edisi Juni 2004]
Siang itu suasana kelas V di SD Pantara di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sangat meriah. Saat itu adalah sesi akhir kegiatan belajar hari itu, saatnya mengevaluasi target capaian murid yang dirumuskan sendiri oleh masing-masing murid setiap minggunya.
Thofik lagi Latihan lagu Mars Anak Pantara-1: Sampai nungging, hurufnya kekecilan nih...Suasana riuh memenuhi ruang kelas berukuran sekitar 50 meter persegi itu. Murid-murid yang hanya terdiri Thfik mulai sibuk dengan kaus kakinya ...dari 10 orang itu berebut memberikan penilaian terhadap target mingguan teman-temannya. Suasana Tuuuh... Thofik sudah lupa dengan syair lagu Mars-nya 'kan?makin heboh karena ada seorang murid yang tidak terima dengan penilaian teman-temannya.
Adu argumentasi pun terjadi. Sang guru dengan berbagai jurus pendekatan, mencoba memberi penjelasan kepada si murid kenapa ia tidak mencapai target untuk ”tidak memancing perhatian teman-teman di kelas”. Tetapi, si murid tetap bersikeras tidak melakukan hal-hal yang memancing perhatian. Bahwa perbuatan membuka diari sebelum waktunya tidak membuat teman-temannya mengalihkan perhatian kepadanya. Akhirnya adu argumentasi diakhiri, dan kata sepakat didapati. Si murid dianggap tetap dinilai mencapai target, tetapi diminta untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.
Begitulah keseharian yang dihadapi Untung S. Drazat. Murid-murid yang dihadapi guru kelahiran Cirebon, 33 tahun lalu itu memang bukan seperti umumnya anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak yang mengalami kesulitan belajar atau learning disablitity (LD) karena mengalami dyslexia, dysgraphia, dan dyscalculia, menyandang attention deficit disorders (ADD) atau attention deficit hyperactivitiy disorders (ADHD), dan autisme.
”Mereka adalah anak-anak yang mengalami gangguan perhatian, tidak bisa fokus ke satu hal. Belum selesai mempersepsi, memahami satu objek, perhatian mereka sudah pindah ke objek lain. Karena masalah perhatiannya ini, mereka mengalami gangguan dalam mempersepsi. Hal ini menyebabkan pemahamaannya terbatas dan tidak utuh. Akhirnya, banyak pelajaran tertinggal. Mengingat pemahaman itu melalui proses melihat, mendengar, meraba. Padahal di kelas, pengalaman paling banyak diperoleh melalui melihat, mendengar, dan melakukan. Dan, itu yang sangat minim pada mereka,” papar Untung, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala SD Pantara.
Menurut pria yang gemar membaca dan browsing ini, hambatan dalam mempersepsi dan memahami suatu peristiwa secara utuh itulah yang menyebabkan murid yang tadi protes; ia sulit memahami bahwa perbuatannya, yang tergesa-gesa membuka diari, membuat perhatian teman-temannya beralih dan terganggu. ”Jadi, mereka kadang-kadang hanya ingat ujungnya saja. Misalnya, ada seorang murid mengganggu temannya, dan karena kesal si temannya menonjok dia. Lalu murid ini mengadu kepada guru bahwa ia ditonjok temannya. Ia tidak sepenuhnya paham kalau ia ditonjok justru karena mengganggu teman,” papar pria yang sudah menangani anak-anak berkesulitan belajar sejak tahun 1997.
Tepatnya,Untung menangani mereka sejak masih kuliah di IKIP Bandung. ”Ketika itu saya menjadi salah satu guru pembimbing di pusat terapi milik dosen saya, Bapak Sugiarmin. Itulah awal saya berkenalan dengan bidang LD, dan saya langsung tertarik untuk terus mendalami karena ada tantangan” kenang Untung. ”Saya suka dengan dunia anak-anak yang ’tiba-tiba’, ’ajaib’, dan spontan. Hampir semua anak di sini punya kelebihan; ada yang hafal nama-nama jalan di Jakarta, ada yang memiliki photographic memory, sehingga dia mengingat detail sebuah objek seakan-akan melihat foto, dan sebgian mereka IQ-nya di atas rata-rata. Ini yang membuat saya tertantang: kenapa anak-anak yang punya kelebihan itu prestasinya tidak bisa berkembang sesuai potensinya, bagaimana menyiasati faktor gangguan penyerta tersebut?” tambahnya.
Menyusun Strategi Pembelajaran Bina Diri
Posted by Unknown
Posted on 09.19
with 2 comments
D. Menyusun Strategi Pembelajaran
Penyusunan strategi pembelajaran haruslah didasarkan atas tujuan pembelajaran yang akan dicapai sebagai kriteria utama. Di samping itu, penyusunan tersebut didasarkan pula atas pertimbangan lain, yaitu hambatan yang mungkin dihadapi pengembang pembelajaran atau guru, seperti waktu, biaya, fasilitas. Tidak ada strategi yang tepat untuk mencapai semua tujuan. Urutan kegiatan pembelajaran pada penyajian, misalnya, belum tentu selalu UCL (Uraian, Contoh dan Latihan) mungkin dapat berbentuk CUL. Sedangkan urutan kegiatan pembelajaran pada pendahuluan yang tersusun DRT (Diskripsi Singkat, Relevansi dan TP) dan penutup yang terdiri dari TUT (Tes Formatif, Umpan Balik, dan Tindak Lanjut) tampaknya tidak perlu mengalami perubahan.
Setiap urutan kegiatan seperti DRT – UCL – TUT atau urutan yang lain, selalu diikuti pemilihan metode dan media serta penentuan waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus.
Khusus mengenai penentuan waktu bagi setiap kegiatan, di samping menggunakan kegiatan sebagai kriteria, juga pemgembang pembelajaran, menggunakan jenis metode dan media sebagai kriteria lain. Ini berarti penentuan waktu setiap kegiatan tersebut dilakukan atas pertimbangan langkah dalam urutan kegiatan seperti D, R, T. U, C, L, T, U, T dan komponen metode dan media yang digunakan. Perubahan pada metode dan media tersebut memungkinkan perubahan waktu yang dibutuhkan guru dan peserta didik. Karena itu penyusunan metode pembelajaran harus dilakukan dengan mengintegrasikan keempat komponen yang tergabung di dalamnya, yaitu urutan kegiatan pembelajaran, metode, media dan waktu. Kekurangan salah satu di antaranya akan menghasilkan strategi pembelajaran yang kurang komperhensif untuk dijadikan dasar dalam pengembangan bahan belajar atau sistem pembelajaran.
E. Memilih dan Menetapkan Metoda pembelajaran
Sebagai cara/strategi guru yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, metode pembelajaran terdiri dari berbagai jenis. Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga tidak ada satu metode pun yang dapat dikatakan lebih baik dari metode lainnya.
Satu hal yang harus diingat sehubungan dengan penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa tidak satu pun metode yang efektif untuk semua mata pelajaran. Setiap metode pada dasarnya akan efektif hanya untuk materi atau tujuan tertentu. Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran pemilihan metode menjadi sangat penting artinya.
Untuk memilih suatu metode yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, terlebih dahulu kita harus mengetahui jenis-jenis metode yang ada, khususnya mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Selain itu kita juga harus mengetahui tujuan yang akan dicapai, jenis materi, dan peserta didik yang akan mengikuti pembelajaran
Berikut ini adalah sebagian dari metode yang biasa digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran.
a. Metode ceramah
Metode ceramah merupakan bentuk penjelasan guru kepada peserta didik berupa kata-kata dan biasanya diikuti dengan tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Yang perlu dipersiapkan guru hanyalah daftar topik yang akan diuraikan dan media visual yang sederhana.
Metode ini tepat untuk diterapkan bila :
1) Kegiatan pembelajaran baru dimulai;
2) Waktu terbatas, sedangkan informasi yang akan disampaikan banyak;
3) Jumlah peserta didik banyak, sedangkan guru tidak ada yang membantu dan jumlah yang membantu tidak memadai.
Selain mempunyai berbagai kelebihan, metode ini mempunyai keterbatasan sebagai berikut :
1) Partisipasi peserta didik rendah;
2) Kemajuan peserta didik sulit dipantau;
3) Perhatian dan minat peserta didik tidak dapat dipantau;
b. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang mencontohkan pelaksanaan satu keterampilan atau proses kegiatan yang sebenarnya. Penggunaan metode ini mempersyaratkan keahlian guru dalam mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Setelah demonstrasi, peserta didik diberi kesempatan melakukan latihan keterampilan atau proses yang sama di bawah suvervisi guru.
b. Metode demonstrasi tepat digunakan bila :
1) Kegiatan pembelajaran bersifat formal, magang (internship), atau latihan kerja.
2) Materi pelajaran berbentuk keterampilan gerak psikomotor, petunjuk sederhana
3) Guru bermaksud menggantikan dan menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, baik yang menyangkut pelaksanaan suatu prosedur maupun dasar teorinya.
4) Guru bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan.
Kesulitan penggunaan metode demonstrasi adalah mendapatkan orang yang bukan saja ahli dalam medemonstrasikan keterampilan atau prosedur yang akan diajarkan, melainkan juga mampu menjelaskan setiap langkah yang didemonstrasikannya secara verbal.
c. Metode Penampilan
Metode penampilan berbentuk pelaksanaan praktik oleh peserta didik di bawah supervisi dari dekat oleh pengajar. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demonstrasi yang telah diterima atau diamati peserta didik.
Untuk menggunakan metode ini guru harus :
1) Memberikan penjelasan yang cukup kepada peserta didik selama peserta didik berpraktik..
2) Melakukan tindakan pengamanan sebelum kegiatan praktik dimulai untuk keselamatan peserta didik dan alat-alat yang digunakan.
Metode penampilan ini tepat digunakan bila :
1) Pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan;
2) Kegiatan pembelajaran bersifat formal, latihan kerja atau magang;
3) Peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam situasi sesungguhnya;
4) Kondisi praktik sama dengan kondisi kerja;
5) Dapat disediakan suvervisi dan bimbingan kepada peserta didik secara dekat selama praktik;
Kesulitan menggunakan metode ini adalah :
1) Membutuhkan waktu panjang, karena peserta didik harus mendapat kesempatan praktik sampai mencapai hasil yang baik.
2) Membutuhkan fasilitas dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh, dan dipelihara secara terus menerus;
Membutuhkan guru atau fasilitator yang lebih banyak, karena setiap guru atau fasilitator hanya dapat membantu sejumlah kecil peserta didik
Penyusunan strategi pembelajaran haruslah didasarkan atas tujuan pembelajaran yang akan dicapai sebagai kriteria utama. Di samping itu, penyusunan tersebut didasarkan pula atas pertimbangan lain, yaitu hambatan yang mungkin dihadapi pengembang pembelajaran atau guru, seperti waktu, biaya, fasilitas. Tidak ada strategi yang tepat untuk mencapai semua tujuan. Urutan kegiatan pembelajaran pada penyajian, misalnya, belum tentu selalu UCL (Uraian, Contoh dan Latihan) mungkin dapat berbentuk CUL. Sedangkan urutan kegiatan pembelajaran pada pendahuluan yang tersusun DRT (Diskripsi Singkat, Relevansi dan TP) dan penutup yang terdiri dari TUT (Tes Formatif, Umpan Balik, dan Tindak Lanjut) tampaknya tidak perlu mengalami perubahan.
Setiap urutan kegiatan seperti DRT – UCL – TUT atau urutan yang lain, selalu diikuti pemilihan metode dan media serta penentuan waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus.
Khusus mengenai penentuan waktu bagi setiap kegiatan, di samping menggunakan kegiatan sebagai kriteria, juga pemgembang pembelajaran, menggunakan jenis metode dan media sebagai kriteria lain. Ini berarti penentuan waktu setiap kegiatan tersebut dilakukan atas pertimbangan langkah dalam urutan kegiatan seperti D, R, T. U, C, L, T, U, T dan komponen metode dan media yang digunakan. Perubahan pada metode dan media tersebut memungkinkan perubahan waktu yang dibutuhkan guru dan peserta didik. Karena itu penyusunan metode pembelajaran harus dilakukan dengan mengintegrasikan keempat komponen yang tergabung di dalamnya, yaitu urutan kegiatan pembelajaran, metode, media dan waktu. Kekurangan salah satu di antaranya akan menghasilkan strategi pembelajaran yang kurang komperhensif untuk dijadikan dasar dalam pengembangan bahan belajar atau sistem pembelajaran.
E. Memilih dan Menetapkan Metoda pembelajaran
Sebagai cara/strategi guru yang digunakan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, metode pembelajaran terdiri dari berbagai jenis. Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga tidak ada satu metode pun yang dapat dikatakan lebih baik dari metode lainnya.
Satu hal yang harus diingat sehubungan dengan penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa tidak satu pun metode yang efektif untuk semua mata pelajaran. Setiap metode pada dasarnya akan efektif hanya untuk materi atau tujuan tertentu. Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran pemilihan metode menjadi sangat penting artinya.
Untuk memilih suatu metode yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, terlebih dahulu kita harus mengetahui jenis-jenis metode yang ada, khususnya mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Selain itu kita juga harus mengetahui tujuan yang akan dicapai, jenis materi, dan peserta didik yang akan mengikuti pembelajaran
Berikut ini adalah sebagian dari metode yang biasa digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran.
a. Metode ceramah
Metode ceramah merupakan bentuk penjelasan guru kepada peserta didik berupa kata-kata dan biasanya diikuti dengan tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Yang perlu dipersiapkan guru hanyalah daftar topik yang akan diuraikan dan media visual yang sederhana.
Metode ini tepat untuk diterapkan bila :
1) Kegiatan pembelajaran baru dimulai;
2) Waktu terbatas, sedangkan informasi yang akan disampaikan banyak;
3) Jumlah peserta didik banyak, sedangkan guru tidak ada yang membantu dan jumlah yang membantu tidak memadai.
Selain mempunyai berbagai kelebihan, metode ini mempunyai keterbatasan sebagai berikut :
1) Partisipasi peserta didik rendah;
2) Kemajuan peserta didik sulit dipantau;
3) Perhatian dan minat peserta didik tidak dapat dipantau;
b. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang mencontohkan pelaksanaan satu keterampilan atau proses kegiatan yang sebenarnya. Penggunaan metode ini mempersyaratkan keahlian guru dalam mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Setelah demonstrasi, peserta didik diberi kesempatan melakukan latihan keterampilan atau proses yang sama di bawah suvervisi guru.
b. Metode demonstrasi tepat digunakan bila :
1) Kegiatan pembelajaran bersifat formal, magang (internship), atau latihan kerja.
2) Materi pelajaran berbentuk keterampilan gerak psikomotor, petunjuk sederhana
3) Guru bermaksud menggantikan dan menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, baik yang menyangkut pelaksanaan suatu prosedur maupun dasar teorinya.
4) Guru bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan.
Kesulitan penggunaan metode demonstrasi adalah mendapatkan orang yang bukan saja ahli dalam medemonstrasikan keterampilan atau prosedur yang akan diajarkan, melainkan juga mampu menjelaskan setiap langkah yang didemonstrasikannya secara verbal.
c. Metode Penampilan
Metode penampilan berbentuk pelaksanaan praktik oleh peserta didik di bawah supervisi dari dekat oleh pengajar. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demonstrasi yang telah diterima atau diamati peserta didik.
Untuk menggunakan metode ini guru harus :
1) Memberikan penjelasan yang cukup kepada peserta didik selama peserta didik berpraktik..
2) Melakukan tindakan pengamanan sebelum kegiatan praktik dimulai untuk keselamatan peserta didik dan alat-alat yang digunakan.
Metode penampilan ini tepat digunakan bila :
1) Pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan;
2) Kegiatan pembelajaran bersifat formal, latihan kerja atau magang;
3) Peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam situasi sesungguhnya;
4) Kondisi praktik sama dengan kondisi kerja;
5) Dapat disediakan suvervisi dan bimbingan kepada peserta didik secara dekat selama praktik;
Kesulitan menggunakan metode ini adalah :
1) Membutuhkan waktu panjang, karena peserta didik harus mendapat kesempatan praktik sampai mencapai hasil yang baik.
2) Membutuhkan fasilitas dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh, dan dipelihara secara terus menerus;
Membutuhkan guru atau fasilitator yang lebih banyak, karena setiap guru atau fasilitator hanya dapat membantu sejumlah kecil peserta didik
d. Metode Simulasi.
Metode ini menampilkan kegiatan simbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya. Untuk menggunakan Metode Simulasi perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1) Pada tahap permulaan proses belajar, diperlukan tingkat di bawah realitas. Peserta didik diharapkan mengidentifikasi lokasi tujuan, sifat-sifat benda, tindakan yang sesuai dengan kondisi tertentu, dan sebagainya;
2) Pada tahap pertengahan proses belajar, diperlukan tingkat realitas yang memadai. Peserta didik diharapkan dapat mempelajari sesuatu dalam kaitan dengan pengetahuan yang lebih luas dan memulai mengkoordinasikan keterampilan-keterampilan.
3) Pada tahap akhir, diperlukan tingkat realitas yang tinggi.
4) Peserta didik diharapkan dapat melakukan pekerjaan seperti seharusnya.
Metode ini sesuai diterapkan untuk :
1) semua tahap belajar
2) pendidikan formal atau magang
3) memberikan kejadian-kejadian yang analogis
4) memungkinkan praktik dan umpan balik dengan resiko kecil
5) diprogramkan sebagai alat pelajaran mandiri
Tetapi metode Simulasi ini mempumyai kelemahan sebagai berikut :
1) Biaya pengembangan bahan-bahannya tinggi dan perlu waktu lama
2) Fasilitas dan alat-alat khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harga dan pemeliharaannya.
3) Resiko bagi peserta didik atau guru tinggi
Alternatif Pendekatan/ Model Pembelajaran Bina Diri .............................
Tujuan Umum dan Tujuan Khusus BKPBI
Posted by Unknown
Posted on 22.25
with No comments
Tujuan Umum dan Tujuan Khusus BKPBI
Secara umum BKPBI bertujuan agar kepekaan sisa pendengaran anak dan perasaan
vibrasi anak semakin terlatih untuk memahami makna berbagai macam bunyi, terutama
bunyi bahasa yang sangat menentukan keberhasilan dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya dengan menggunakan ABM atau tanpa ABM.
Secara khusus tujuan BKPBI adalah sebagai berikut :
1. Agar anak tunarungu dapat terhindar dari cara hidup yang semata-mata
tergantung pada daya penglihatan saja, sehingga cara hidupnya lebih
mendekati anaknormal.
2. Agar kehidupan emosi anak tunarungu berkembang dengan lebih
seimbang.
3. Agar penyesuaian anak tunarungu menjadi lebih baik berkat dunia
pengalamannya yang lebih luas.
4. Agar motorik anak tunarungu berkembang lebih sempurna.
5. Agar anak tunarungu mempunyai kemungkinan untuk mengadakan kontak yang
lebih baik sebagai bekal hidup di masyarakat yang mendengar.
D. Tujuan setiap tahapan
1. Deteksi
Tujuan dari deteksi bunyi, yaitu anak menyadari adanya bunyi-bunyian
latar belakang, bunyi suara manusia, dan bunyi suara binatang secara
terprogram.
2. Diskriminasi
Tujuan dari diskriminasi bunyi yaitu anak dapat membedakan dua macam
sumber bunyi atau lebih yang berbeda timbrenya secara terprogram.
3. Identifikasi
Tujuan dari identifikasi bunyi yaitu anak dapat menyebutkan ciri–ciri dari
bunyi-bunyi tertentu dan mampu mengenali bunyi-bunyi yang
diperdengarkan baik melalui alat musik atau melalui suara manusia secara
terprogram.
18
4. Komprehensi
Tujuan dari komprehensi bunyi yaitu anak dapat memahami dan
melakukan perintah sesuai bunyi yang diperdengarkan.
BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI ABK
Posted by Unknown
Posted on 07.10
with No comments
KEBUTUHAN BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. PENDAHULUAN
masih ada yang menganggap kecacatan atau kelainan yang disandang oleh anak berkebutuhan khusus sebagai kutukan, penyakit menular, gila, dan lain-lain. Akibat dari itu maka ABK dan keluarga ada yang dikucilkan oleh masyarakatnya. Ada diantara ABK sendiri yang menarik diri tidak mau berbaur dengan masyarakat karena merasa cemas dan terancam.
Kondisi tersebut tentunya membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap tumbuh kembang ABK, bahkan terhadap keluarganya (kedua orangtuanya). Thompson dkk. (2004) menyatakan bahwa pandangan atau penilain negative dari lingkungan terhadap ABK dan keluarganya merupakan tantangan terbesar selain kecacatan yang disandang oleh ABK itu sendiri dan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan beserta keluarganya. Bahkan cara pandang masyarakat yang negative menjadi stigma yang berkepanjangan (Rahardja, 2006). Dampak yang jelas sering ditemui adalah terhadap konsep diri, prestasi belajar, perkembangan fisik, dan perilaku menyimpang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Thompson ….(2004) bahwa pandangan negative dari masyarakat terhadap kecacatan menyebabkan citra diri yang negative dari ABK.
Sehingga persoalan yang dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus menjadi semakin bertumpuk-tumpuk. ABK tidak hanya harus mengatasi hambatan yang muncul dari dirinya sendiri, ia harus menghadapi pula berbagai tantangan atau rintangan yang datangnya dari lingkungan. Di satu sisi, ABK berupaya memenuhi kebutuhannya, sedangkan lingkungan sering tidak dapat memberikan peluang bagi ABK untuk dapat tumbuh serta berkembang sesuai dengan kondisinya itu. Maka tidak sedikit ABK tidak mencapai perkembangan yang optimal.
Semakin bertambahnya permasalahan membuat ABK menjadi kelompok yang rentan “terpinggirkan” dari kehidupan social, poolitik, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Seolah-olah mereka bukan bagian dari anggota masnyarakat dan dianggap tidak membutuhkan hal tersebut. Sejatinya, ABK adalah anggota masyarakat juga, sama-sama makhluk tuhan yang membutuhkan banyak hal sebagaimana manusia lainnya agar mampu mengisi kehidupannya secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Berdasarkan keadaan sebagaimana dipaparkan di atas maka ABK membutuhkan “alat” agar dirinya mampu mengatasi hambatan yang dialaminya dan mampu hidup mandiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Alat itu diantaranya adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan diharapakan ABK memperoleh bekal hidup dan mencapai perkembangan yang optimal. Namun, dengan menumpukknya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh ABK, tidaklah cukup melalui pendidikan dengan proses belajar mengajar di kelas. ABK juga butuh layanan yang mendukung kepada keberhasilan belajar dan layanan yang memandirikan untuk mencapai perkembangan yang optimal. Layanan itu adalah bimbingan dan konseling.
Kebutuhan layanan bimbingan dan konseling ini ternyata tidak hanya dibutuhkan oleh ABK tapi juga oleh orang tuanya serta hal-hal lain yang diluar jangkauan (out of reach) kemampuan dan kewenangan guru. Menurut Thompson dkk (2004) setiap orang tua ABK itu akan memiliki permasalahan psikologis akibat dari kondisi anaknya. Permasalahan itu berupa cemas, takut, stress, merasa bersalah, over protection, dll. Sehingga orangtua pun membutuhkan layanan konseling.
B. MASALAH
Berdasarkan pemaparan di atas maka jelas ada persoalan-persoalan yang membutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Maka permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimanakah kebutuhan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus?
C. BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
1. Bimbingan dan Konseling Sebagai Layanan
Bimbingan dan konseling sebagai layanan sedikitnya memerlukan 4 pendekatan (pendekatan krisis, remedial, pencegahan, dan perkembangan). Pendekatan perkembangan dipandang pendekatan yang komprehensif sehingga disebut pendekatan komprehensif.
Sebagai layanan yang memiliki pendekatan yang komprehensif maka ada beberapa komponen di dalamnya, yaitu: asumsi dasar dan kebutuhan dasar, teori bimbingan perkembangan, kurikulum dan tujuan bimbingan perkembangan, prinsip-prinsip bimbingan perkembangan, program bimbingan dan konseling, serta kebutuhan acuan yuridis dan model nasional untuk memperoleh standar layanan juga untuk melindungi layanan bimbingan dan konseling sebagai profesi.
Sebagai profesi (konselor) maka dibutuhkan aturan-aturan dan penatalaksanaan layanan agar tidak tumpang tindih dengan profesi lain terutama dengan profesi guru. Untuk itu perlu adanya penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal.
Kebutuhan konselor di sekolah luar biasa (SLB) idealnya adalah ada di setiap SLB. Tapi minimalnya ada satu konselor dalam satu gugus SLB. Keberadaan konselor diharapkan mampu mengatasi permasalahan diluar kemampuan dan kewenangan guru, misalnya melakukan layanan bimbingan dan konseling kepada orang tua ABK.
2. Kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus
Pada dasarnya kebutuhan anak berkebutuhan khusus sama dengan anak-anak lain pada umumnya (kebutuhan jasmani dan rohani). Tapi ada hal-hal khusus yang membutuhkan penanganan khusus, biasanya berkaitan dengan kelainan atau kecacatan yang disandangnya. Di dalam prosesnya dapat berupa pendidikan, pembelajaran yang mendidik dan memandirikan, terapi, layanan bimbingan dan konseling, layanan medis, dll.
Penanganan itu tentunya dilakukan oleh profesi yang sesuai dengan bidangnya. Artinya akan banyak ahli yang terlibat dalam rangka memenuhi kebutuhan ABK itu. Sehingga dikenal dengan pendekatan multidisipliner. Para ahli dari berbagai bidang berkolaborasi memberikan layanan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan ABK agar berkembangan secara optimal.
3. Kebutuhan Bimbingan dan Konseling Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Mengenai kebutuhan layanan bimbingan dan konseling ini, Thompson dkk (2004) menuliskan garis besarnya sebagai berikut:
a. Anak harus mengenal dirinya sendiri
b. Menemukan kebutuhan ABK yang spesifik sesuai dengan kelainannya. Kebutuhan ini muncul menyertai kelainannya.
c. Menemukan konsep diri
d. Memfasilitasi penyeusaian diri terhadap kelainan/kecacatanya
e. Berkoordinasi dengan ahli lain
f. Melakukan konseling terhadap keluarga ABK
g. Membantu perkembangan ABK agar berkembang efektif, memiliki keterampilan hidup mandiri
h. Membuka peluang kegiatan rekreasi dan mengembangkan hobi
i. Mengembangkan keterampilan personal dan social
j. Besama-sama merancang perencanaan pendidikan formal, pendidikan tambahan, dan peralatan yang dibutuhkan
D. PENUTUP
Kebutuhan ABK dan keluarganya telah banyak terabaikan selama sekian tahun. Stereotip dan perilaku dari masyarakat harus berubah dalam menghadapi kecacatan. Anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar, menik mati hidup, mampu mandiri, produktif, dan berkembang sesuai potensinya, tentu melalui berbagai layanan, diantaranya melalui layanan bimbingan dan konseling.
Anak-anak berkebutuhan khusus adalah individu yang unik. Mereka juga mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak lainnya dan memiliki kebutuhan dasar yang sama. Ini merupakan tantangan bagi para konselor untuk berkolaborasi memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
E. DAFTAR PUSTAKA
ABKIN (2007). Naskah Akademik: Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.
Mohammad Rofiul (2010). Landasan Filosofis Bimbingan. Tersedia di: http://mohamadrofiul.blogspot.com/2010/05/makalah. [online]: 3 Oktober 2010.
Rahardja, Djadja. (2006) Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Criced University of Tsukuba, Jepang
Sunaryo Kartadinata (…).Review on Philosophy, Theory, Practice of Developmental Guidance and Counseling. tersedian di: Webpage: file.upi.edu: FIP: PPB: Sunaryo Kartadinata. [online]: 29 September 2010.
Thompson, C., Rudolph, L., dan Henderson, D. (2004). Counseling Children: sixth ed. USA: Brooks/Cole Company.






